Banjir Informasi, Masihkah Ada Ruang Bagi Sang Pewarta?
Malam kian larut, namun di pendopo kecil itu, asap rokok klobot masih mengepul tipis. Suasana hening sejenak, hanya menyisakan suara jangkrik yang bersahutan di kejauhan. Semar Badranaya duduk bersandarkan tiang kayu, tatapannya menerawang jauh menembus kegelapan malam, memikirkan karut-marut dunia modern yang kian bising oleh lalu lintas kata-kata. Di hadapannya, tiga anaknya—Gareng, Petruk, dan Bagong—duduk […]
